Selasa, 01 November 2016

Sejarah Media Pembelajaran


MEDIA PEMBELAJARAN
SEJARAH MEDIA PEMBELAJARAN

Nama Kelompok  : Amos
1.      Ni Putu Tiarini                                    NIM. 1511031020/III/B
2.      Kadek Wiwin Sutrisnayanti                NIM. 1511031120/III/B
3.      Putu Hesti Mardika Astuti                  NIM. 1511031123/III/B
4.      Ni Nengah Sudiasih                            NIM. 1511031147/III/B
5.      Ni Wayan Karini                                 NIM. 1511031152/III/B
6.      Ni Komang Supitri Pebriari                NIM. 1511031193/III/B


JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2016

  1. SEJARAH PERKEMBANGAN MEDIA
Ditinjau dari awal sejarah pendidian, guru merupakan satu-satunya sumber belajar siswa untuk memperoleh ilmu. Pada abad ke 17 tepatnya tahun 1657, diterbitkanlah buku bergambar yang berjudul Orbis Sensualium. Buku ini dibuat oleh tokoh bernama Johan Amos Comenius. Penulisan buku ini didasari oleh konsep yaitu, tidak ada segala sesuatu dalam pikiran manusia tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan. Pada abad ke 20 tahun 1920 muncul media yang dinamakan proyektor slide. Media ini menggunakan lentera untuk menyampaikan materi.

Berkas:Johan amos comenius 1592-1671.jpg
Gambar 1. John Amos Comenius
Selanjutnya masih pada abad ke 20 tepatnya tahun 1930 diciptakanlah media audio contohnya, radio dan recorder (perekam suara). Radio digunakan untuk menyebarkan informasi secara luas melalui suara. Recorder digunakan untuk merekam informasi yang berupa suara dan memutar kembali informasi tersebut saat diperlukan. Keuntungan media audio ini yaitu, dapat menyampaikan informasi secara lengkap tanpa adanya modifikasi dari pihak-pihak lain. Kemudian berkembanglah media audio visual, yang mengkombinasikan informasi gambar dengan suara pada tahun 1943-1945. Media audio visual ini digunakan oleh angkatan senjata Amerika. Diciptakanlah sekitar 400 film pelatihan untuk melatih serta menyiapkan pasukan perang Amerika. Media ini sangatlah efektif dalam penggunaanya saat itu.
Pada tahun 1950 munculah media pembelajaran yaitu televisi. Televisi digunakan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak umum. Adanya channel-cahannel pendidikan dalam televisi, memungkinkan orang untuk belajar sambil menonton. Pada tahun 1950-1995 munculah komputer sebagai media yang multifungsi. Dengan adanya software-software didalam komputer, dapat memudahkan seseorang menyampaikan informasi secara mudah dan cepat. Pada abad ke 21 tepatnya tahun 2001 sampai sekarang munculah media pembelajaran berbasis ICT. Semua gatget seperti tablet, handphone, notebook, dan laptop dapat terkoneksi ke internet. Melalui internet seseorang dapat mengakses informasi secara global dan belajar online dengan e-learning, Seseorang juga dapat membaca buku elektronik seperti BSE. Semua orang dapat belajar sendiri tanpa adanya guru, dimana saja dan kapan saja. 
Hasil gambar untuk gambar televisi animasi
Gambar 2. TV

Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1657.

Hasil gambar untuk gambar buku bergambar
Gambar 3. Buku Bergambar

Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dashjhgar bahwa tak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan.
Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat meberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi siswa melalui semua indera, terutama indera pandang – dengar. Kalau kita amati lebih cermat lagi, pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap sebagai alat untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar (teaching aids). Alat bantu mengajar yang mula-mula digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat-alat bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar. Sekitar pertengahan abad 20 usaha pemanfaatan alat visual mulai dilengkapi dengan peralatan audio, maka lahirlah peralatan audio visual pembelajaran. Usaha-usaha untuk membentuk pembelajaran abstrak menjadi lebih konkrit terus dilakukan. Dalam usaha itu, Edgar Dale membuat klasifikasi 11 tingkatan pengalaman belajar dari yang paling konkrit sampai yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama ”Kerucut Penglaman” (Cone of Experience) dari Edgar Dale. Ketika itu, para pendidik sangat terpikat dengan kerucut pengalaman itu, sehingga pendapat Dale tersebut banyak dianut dalam pemilihan jenis media yang paling sesuai untuk memberikan pengalaman belajar tertentu pada siswa. Pada akhir tahun 1950, teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat audio visual. Dalam pandangan teori komunikasi, alat audio visual berfungsi sebagai alat penyalur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Begitupun dalam dunia pendidikan, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga berfungsi sebagai penyalur pesan belajar. Sayangnya, waktu itu faktor siswa, yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran, belum mendapat perhatian khusus.

Hasil gambar untuk edgar dale             Hasil gambar untuk prisma pengalaman edgar dale
Gambar 3. Edgar Dale                                     Gambar 4. Krucut Pengalaman

Baru pada tahun 1960-an, para ahli mulai memperhatikan siswa sebagai komponen utama dalam pembelajaran. Pada saat itu teori Behaviorisme BF. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Produk media pembelajaran yang terkenal sebagai hasil teori ini adalah diciptakannya teaching machine (mesin pengajaran) dan Programmed Instruction (pembelajaran terprogram).
Pada tahun 1965-70, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian intregal dalam proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar.
Menurut buku oleh Midun (2009), setelah Johan Amos Camenius pada abad ke 17, menulis buku yang berjudul Orbis Pictus (dunia dalam gambar) selanjutnya dengan ditemukannya radio pada tahun 1930-an, muncul gerakan “Audiovisual education” yang menekankan pentingnya penggunaan audio visual dalam pembelajaran. Dari saat itu, mulai dikenal AVA (Audio Visual Aids), yaitu alat peraga atau media yang disampaikan guru kepada peserta didik. Jadi peranan AVA disini adalah untuk membantu guru menyampaikan pelajaran kepada peserta didik agar pembelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit, karena itu juga disebut “Teaching Aids” (alat bantu guru dalam mengajar). Alat bantu guru dalam konsepsi pengajaran visual adalah setiap gabar, model, benda atau alat yang dapat memeberikan pengalaman visual yang nyata kepada peserta didik.
Hasil gambar untuk gambar radio animasi
Gambar 5. Radio
Selanjutnya, pada tahun 1940-an konsep pengajaran visual tersebut berkembang menjadi pembelajaran audio visual. Dan sekitar tahun 1945 timbul variasi nama seperti “audiovisual material”, “audiovisual methods”, “audiovisual devices” penggunaan berbagai nama ini pada intinya adalah guru menggunakan berbagai alat atau bahan, metode dalam menyampaikan ide, gagasan dan pengalaman kepada peserta didik dalam pembelajaran.
Perkembangan berikut terjadi pada tahun 1950-an, yakni munculnya gerakan yang disebut “ Adiovisual Commonition”, memandang pendidikan sebagai suatu proses komunikasi. Komunikasi ditekankan dalam pembelajaran, penekan tidak lagi pada benda atau bahan berupa bahan audiovisual untuk pembelajaraan, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi bahan) kepada penerima. Gerakan komunikasi audiovisual memberikan penekanan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsep audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem dan desain pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran. Pada perkembangan lebih lanjut, tahun 1952-an munculnya konsep “instructional materials” yang secara konsepsional tidak banyak berbeda dengan konsep sebelumnya, karena pada intinya konsepsi ini merupakan aplikasi proses komunikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi pembelajaran.
Puncak dari perkembangan media terjadi pada tahun 1990-an dengan munculnya konsep ”educational technologi” atau “instrucional technology” yang mana proses pembelajaran berbasis teknologi komputer. Kini “educational technologi” atau ditangan oleh sebuah lembaa internasional yang bernama Assossoation of Educational Communication and technology (ACET)
Hasil gambar untuk komputer pata tahun 1990-an
Gambar 6. Komputer pada tahun 1990-an

Media pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu mengajar, melainkan juga sebagai sumber belajara bagi peserta didik. Untuk lebih jelasnya Midun (2009) memberikan ulasan sebagai berikut.
1.      Fungsi AVA berfungsi untuk memberikan pengalaman yang konkrit kepada peserta didik. Edgar Dale dalam krucut pengalamannya mengatakan bahwa lambang erbal adalah “Most Abstract Symbol”. Mengapa? Karena lambang verbal (Bahasa) dibuat dengan sengaja oleh sekelompok manusia. Bahasa (lambang verbal) pada dasarnya bersifat abstrak, maka guru perlu menggunakan alat bantu berupa gambar, model, benda sebenarnya dalam menyajikan suatu pembelajaran tertentu. Peserta didik akan dapat memahami/menegerti apa yang disampaikan oleh guru.
2.      Media sebagai sarana komunikasi dan interaksi pembelajaran. Media berasal dari kata lain, “medium” yang berarti diantara (in between). Jadi media berada di tengah (diantara) dua hal yaitu yang menulis/membuat media dan yang menerima. Dalam komunikasi tatap muka, pembicara langsung berhadapan dalam menyampaikan pesannya kepada penerima tanpa adanya perantara yang digunakan. Dengan meletakkan pesan yang hendak disampaikan ke dalam suatu format media tertentu (buku, film, dsb.) yang dinamakan kegiatan “eccoding”, maka komunikator tidak perlu lagi berhadapan langsung dengan pihak penerima. Fungsi kedua dari media pembelajaran, yaitu sebagai sarana komunikasi dan interaksi antara peserta didik dengan media tersebut, dan dengan demikian merupakan sumber belajar yang penting

  1. FOTO MEDIA-MEDIA PEMBELAJARAN
Gambar Media Kelompok Amos

Gambar Media Kelompok B.F. Skinner

Gambar Media Kelompok John Amos Comenius

Gambar Media Kelompok Edgar Dale

Gambar Media Kelompok Jhon

Gambar Media Kelompok Midun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar