
MEDIA PEMBELAJARAN
SEJARAH MEDIA PEMBELAJARAN

Nama Kelompok : Amos
1.
Ni Putu Tiarini NIM.
1511031020/III/B
2.
Kadek Wiwin
Sutrisnayanti NIM.
1511031120/III/B
3.
Putu Hesti Mardika
Astuti NIM.
1511031123/III/B
4.
Ni Nengah Sudiasih NIM. 1511031147/III/B
5.
Ni Wayan Karini NIM.
1511031152/III/B
6.
Ni Komang Supitri
Pebriari NIM. 1511031193/III/B
JURUSAN
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN GANESHA
2016
- SEJARAH PERKEMBANGAN MEDIA
Ditinjau
dari awal sejarah pendidian, guru merupakan satu-satunya sumber belajar siswa
untuk memperoleh ilmu. Pada abad ke 17 tepatnya tahun 1657, diterbitkanlah buku
bergambar yang berjudul Orbis Sensualium. Buku ini dibuat oleh tokoh bernama
Johan Amos Comenius. Penulisan buku ini didasari oleh konsep yaitu, tidak ada
segala sesuatu dalam pikiran manusia tanpa terlebih dahulu melalui
penginderaan. Pada abad ke 20 tahun 1920 muncul media yang dinamakan proyektor
slide. Media ini menggunakan lentera untuk menyampaikan materi.

Gambar 1. John Amos Comenius
Selanjutnya
masih pada abad ke 20 tepatnya tahun 1930 diciptakanlah media audio contohnya,
radio dan recorder (perekam suara). Radio digunakan untuk menyebarkan informasi
secara luas melalui suara. Recorder digunakan untuk merekam informasi yang
berupa suara dan memutar kembali informasi tersebut saat diperlukan. Keuntungan
media audio ini yaitu, dapat menyampaikan informasi secara lengkap tanpa adanya
modifikasi dari pihak-pihak lain. Kemudian berkembanglah media audio visual,
yang mengkombinasikan informasi gambar dengan suara pada tahun 1943-1945. Media
audio visual ini digunakan oleh angkatan senjata Amerika. Diciptakanlah sekitar
400 film pelatihan untuk melatih serta menyiapkan pasukan perang Amerika. Media
ini sangatlah efektif dalam penggunaanya saat itu.
Pada
tahun 1950 munculah media pembelajaran yaitu televisi. Televisi digunakan untuk
menyampaikan informasi kepada khalayak umum. Adanya channel-cahannel pendidikan
dalam televisi, memungkinkan orang untuk belajar sambil menonton. Pada tahun
1950-1995 munculah komputer sebagai media yang multifungsi. Dengan adanya
software-software didalam komputer, dapat memudahkan seseorang menyampaikan
informasi secara mudah dan cepat. Pada abad ke 21 tepatnya tahun 2001 sampai
sekarang munculah media pembelajaran berbasis ICT. Semua gatget seperti tablet,
handphone, notebook, dan laptop dapat terkoneksi ke internet. Melalui internet
seseorang dapat mengakses informasi secara global dan belajar online dengan
e-learning, Seseorang juga dapat membaca buku elektronik seperti BSE. Semua
orang dapat belajar sendiri tanpa adanya guru, dimana saja dan kapan saja.

Gambar 2. TV
Pada
awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh
pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian
bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan
Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar
yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium
Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1657.

Gambar 3. Buku Bergambar
Penulisan
buku itu dilandasi oleh suatu konsep dashjhgar bahwa tak ada sesuatu dalam akal
pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan.
Dari
sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat
meberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi siswa
melalui semua indera, terutama indera pandang – dengar. Kalau kita amati lebih
cermat lagi, pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap sebagai alat
untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar (teaching aids). Alat bantu
mengajar yang mula-mula digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar,
model, grafis atau benda nyata lain. Alat-alat bantu itu dimaksudkan untuk
memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap
dan daya ingat siswa dalam belajar. Sekitar pertengahan abad 20 usaha
pemanfaatan alat visual mulai dilengkapi dengan peralatan audio, maka lahirlah
peralatan audio visual pembelajaran. Usaha-usaha untuk membentuk pembelajaran
abstrak menjadi lebih konkrit terus dilakukan. Dalam usaha itu, Edgar Dale
membuat klasifikasi 11 tingkatan pengalaman belajar dari yang paling konkrit
sampai yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama
”Kerucut Penglaman” (Cone of Experience) dari Edgar Dale. Ketika itu, para
pendidik sangat terpikat dengan kerucut pengalaman itu, sehingga pendapat Dale
tersebut banyak dianut dalam pemilihan jenis media yang paling sesuai untuk
memberikan pengalaman belajar tertentu pada siswa. Pada akhir tahun 1950, teori
komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat audio visual. Dalam pandangan
teori komunikasi, alat audio visual berfungsi sebagai alat penyalur pesan dari
sumber pesan kepada penerima pesan. Begitupun dalam dunia pendidikan, alat
audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga
berfungsi sebagai penyalur pesan belajar. Sayangnya, waktu itu faktor siswa,
yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran, belum mendapat perhatian
khusus.

Gambar 3. Edgar
Dale Gambar
4. Krucut Pengalaman
Baru
pada tahun 1960-an, para ahli mulai memperhatikan siswa sebagai komponen utama
dalam pembelajaran. Pada saat itu teori Behaviorisme BF. Skinner mulai
mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini telah
mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai
hasil proses pembelajaran. Produk media pembelajaran yang terkenal sebagai
hasil teori ini adalah diciptakannya teaching machine (mesin pengajaran) dan
Programmed Instruction (pembelajaran terprogram).
Pada
tahun 1965-70, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan
pengaruhnya dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistem ini
mendorong digunakannya media sebagai bagian intregal dalam proses pembelajaran.
Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah
diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian
integral dalam proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang
sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan
belajar, hendaklah merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar.
Menurut
buku oleh Midun (2009), setelah Johan Amos Camenius pada abad ke 17, menulis buku
yang berjudul Orbis Pictus (dunia dalam gambar) selanjutnya dengan ditemukannya
radio pada tahun 1930-an, muncul gerakan “Audiovisual education” yang
menekankan pentingnya penggunaan audio visual dalam pembelajaran. Dari saat
itu, mulai dikenal AVA (Audio Visual Aids), yaitu alat peraga atau media yang
disampaikan guru kepada peserta didik. Jadi peranan AVA disini adalah untuk
membantu guru menyampaikan pelajaran kepada peserta didik agar pembelajaran
menjadi lebih jelas dan lebih konkrit, karena itu juga disebut “Teaching Aids”
(alat bantu guru dalam mengajar). Alat bantu guru dalam konsepsi pengajaran
visual adalah setiap gabar, model, benda atau alat yang dapat memeberikan
pengalaman visual yang nyata kepada peserta didik.

Gambar 5. Radio
Selanjutnya,
pada tahun 1940-an konsep pengajaran visual tersebut berkembang menjadi
pembelajaran audio visual. Dan sekitar tahun 1945 timbul variasi nama seperti
“audiovisual material”, “audiovisual methods”, “audiovisual devices” penggunaan
berbagai nama ini pada intinya adalah guru menggunakan berbagai alat atau
bahan, metode dalam menyampaikan ide, gagasan dan pengalaman kepada peserta
didik dalam pembelajaran.
Perkembangan
berikut terjadi pada tahun 1950-an, yakni munculnya gerakan yang disebut “
Adiovisual Commonition”, memandang pendidikan sebagai suatu proses komunikasi.
Komunikasi ditekankan dalam pembelajaran, penekan tidak lagi pada benda atau
bahan berupa bahan audiovisual untuk pembelajaraan, tetapi dipusatkan pada
keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi
bahan) kepada penerima. Gerakan komunikasi audiovisual memberikan penekanan
kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran
yang utuh. Jadi konsep audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi,
sistem dan desain pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran.
Pada perkembangan lebih lanjut, tahun 1952-an munculnya konsep “instructional materials” yang secara
konsepsional tidak banyak berbeda dengan konsep sebelumnya, karena pada intinya
konsepsi ini merupakan aplikasi proses komunikasi dan sistem dalam merencanakan
dan mengembangkan materi pembelajaran.
Puncak
dari perkembangan media terjadi pada tahun 1990-an dengan munculnya konsep ”educational technologi” atau “instrucional technology” yang mana
proses pembelajaran berbasis teknologi komputer. Kini “educational technologi” atau ditangan oleh sebuah lembaa
internasional yang bernama Assossoation
of Educational Communication and technology (ACET)

Gambar 6. Komputer pada tahun 1990-an
Media
pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu mengajar, melainkan juga
sebagai sumber belajara bagi peserta didik. Untuk lebih jelasnya Midun (2009)
memberikan ulasan sebagai berikut.
1. Fungsi
AVA berfungsi untuk memberikan pengalaman yang konkrit kepada peserta didik.
Edgar Dale dalam krucut pengalamannya mengatakan bahwa lambang erbal adalah
“Most Abstract Symbol”. Mengapa? Karena lambang verbal (Bahasa) dibuat dengan
sengaja oleh sekelompok manusia. Bahasa (lambang verbal) pada dasarnya bersifat
abstrak, maka guru perlu menggunakan alat bantu berupa gambar, model, benda
sebenarnya dalam menyajikan suatu pembelajaran tertentu. Peserta didik akan
dapat memahami/menegerti apa yang disampaikan oleh guru.
2. Media
sebagai sarana komunikasi dan interaksi pembelajaran. Media berasal dari kata
lain, “medium” yang berarti diantara (in between). Jadi media berada di tengah
(diantara) dua hal yaitu yang menulis/membuat media dan yang menerima. Dalam
komunikasi tatap muka, pembicara langsung berhadapan dalam menyampaikan
pesannya kepada penerima tanpa adanya perantara yang digunakan. Dengan
meletakkan pesan yang hendak disampaikan ke dalam suatu format media tertentu
(buku, film, dsb.) yang dinamakan kegiatan “eccoding”, maka komunikator tidak
perlu lagi berhadapan langsung dengan pihak penerima. Fungsi kedua dari media
pembelajaran, yaitu sebagai sarana komunikasi dan interaksi antara peserta
didik dengan media tersebut, dan dengan demikian merupakan sumber belajar yang
penting
- FOTO MEDIA-MEDIA PEMBELAJARAN

Gambar Media Kelompok Amos

Gambar Media Kelompok B.F. Skinner

Gambar Media Kelompok John Amos Comenius

Gambar Media Kelompok Edgar Dale

Gambar Media Kelompok Jhon

Gambar Media Kelompok Midun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar